Hehehe………..tersindir dech semalam waktu mendampingi (walau hanya sesaat) suami menghadiri pertemuan pertama tda 11 digit. Saya bergabung dengan TDA sejak TDA berdiri, ketika itu kami (saya dan suami) sedang seru-serunya memulai bisnis. Mulai dari bisnis argo, restoran, sampai berani ambil franchise salah satu salon papan atas disini, ketika itu kami lakukan tanpa mentor (karena kami bukan dari keluarga pengusaha), hanya buka buku dan web saja, hanya berbekal otodidak dan saling mendukung. Dengan berjalannya waktu, bisnis yang kami serahkan kepada keluarga, ternyata tidak kokoh berdiri. Kami coba intropeksi diri, apa sich yang kami cari dengan berbisnis ? Saya masih ingat sekali, trigger saya untuk berbisnis, ketika itu saya baru memiliki baby, diusia baby yang baru 6 bulan, saya ditugaskan ke Jerman, walaupun penugasan ini sudah sering saya alami sebelumnya, tapi ketika saya alami pada saat saya memiliki baby berusia 6 bulan, rasanya……….astagaaaa sedihnya. Saya ingat ketika saya di Jerman, saya tinggalkan buku Robert K untuk bacaan suami saya, lalu saya ingat sekali salah satu sms dari suami tercinta yang bilang, kita belum seperti dia, karena kita masih diperbudak oleh pekerjaan. Itulah trigger kami untuk berbisnis. Kami ingin memiliki waktu luang. Kami ingin punya waktu yang banyak dengan anak-anak, dan yang terutama kami memiliki hobi travelling yang cukup gila-gilaan. Kami buat bisnis, dengan kepolosan kami saat itu, kami pikir dengan bisnis, kami bisa punya kebebasan waktu yang kami dambakan. Ahhh…………..naifnya kami saat itu. Ternyata…lebih sibuk. Urusan karyawan, politik dagang, saingan sesama bisnis, dan…..hubungan dengan keluarga yang kebetulan membantu kami berbisnis. Ketika semua itu akhirnya tidak dapat dipertahankan, kami mencari lagi kemungkinan untuk mewujudkan cita-cita kami. Ternyata kami menemukan gaya yang kami sukai di trading, that’s our passion, our chemical. Kapanpun, dimanapun, dan berapapun profit yang kami mau bisa diatur.Dan yang terpenting gara-gara trading, saya bisa angkut semua keluarga saya ketika saya dinas ke luar lagi. Mangkanya pas anak ke-2, umur yang sama ketika kakaknya ditinggal, yaitu 6 bulan sudah digotong ke eropa bukan ditinggal seperti kakaknya, alhamdulillah.
Tapiiii………kami masih minder kalau diminta kontribusi di TDA, lha wong……..kami ngga punya perusahaan apapun, itu kami 5 tahun yang lalu, punya perusahaan dimana-mana… SEKARANG : Perusahaan kami hanya komputer/pda dengan koneksi internet. Karyawan kami hanya diri kami sendiri, bagaimana mengatur keserakahan dalam diri sendiri. Kantor kami……….wahhhh bisa di sekolah anak, bisa di supermarket, bisa dimanapun asalkan ada koneksi internet.
Duhhh………maluuuu banget waktu ditanya kenapa ngga pernah sharing di TDA, sharing apa ya…lha wong kami ngga punya apa-apa yang bisa disharing. Sesekali kami juga trading property, tapi jangan disangka kami kaya Pak James ya, kami dengan bermodal lagi-lagi otodidak, wahhh…….super ngawur. Beli aja di suatu tempat yang baru akan dibangun, setelah fasilitas dan bangunan jadi, dijual lagi, gitu aja….he.he.h.e… Waktu kami ?Sangat banyak……..sampai kami mendatangi yayasan kanker anak hanya untuk maksa bantuin mereka jadi apa kek.
Eh…….belum habis rasa malu ini karena disindir ngga pernah nongol di milis, ditambah lagi pertanyaan lho kok masih kerja ?(maksudnya saya…h.e.he.h.e…bukan suami loch). Saya mengajukan resign letter udah sejak 4 tahun yang lalu, setiap kali metodanya sama, dipanggil bos, lalu dipanggil big boss, setelah pulang dari ruangan big boss (kok pulang ?karena big boss ngga di Indonesia), saya ngga jadi resign. Suami sampe putus asa liat metoda yang sama tiap tahun, he.h.eh.e…Intinya saya ngga tega-an, again and again saya kembali ke bangku saya di kantor, udah lebih dari 10 tahun nich, udah lengket banget, saya lebih ke moral obligation untuk tetap kerja disini. Saya dapat imbalan, ngantor lebih fleksibel dan boleh bawa personal laptop untuk trading di kantor, he.h.e.he……Jadi mohon maaf kalau saya belum full TDA, suami aja dech yang udah full TDA ehhh………boleh nyebut TDA ngga ya, dengan segala kelemahan kami diatas tadi ?Bingung lagi….h.e.he.h.e…
Lalu blog……..hmmmm, saya terkadang menulis sich di blog, tapi karena saya cari yang gampang dan bisa diakses dari manapun, terutama kantor, saya buka blog di friendster saya saja, he.he.h.e….aduhhhhh makin malu dech saya. Tulisan di blog saya, wahhhh makin-makin minder, liat tulisan temen-temen di blog yang lainnya, isinya perusahaan anu, bisnis anu, wuihhh dasyat, lha blog saya, isinya keluarga dan sedikit soal trading, he.he.h.e…….
Keliatan kan saking minder dan malunya, waktu saya dateng, saya hanya diam di pintu ruangan vip aja, ngga berani masuk, he.h.eh.e….sampe dipanggil suami, he.h.eh.e…
Pak Roniii……….ayooo bantu kami biar bisa sharing, sharing apa nich ?