You are the one…
Thursday, February 22nd, 2007Cita-cita gw ketika memulai kerja di kantor ini, kerja sekeras mungkin, gapai karir secepat-cepatnya…semua tantangan dikerjakan, saat itu rasanya 24 jam ngga cukup, saking inginnya menyelesaikan semua task, Sabtu-Minggu dihabiskan dikantor. Pagi di Surabaya, siang di Bandung, malam di Jakarta, semua dikerjakan dengan senang hati. Even dinas ke luar negeri, kerja di luar negeri, semua diterima, demi…mencapai posisi yang sekarang gw tempatin. Alesan gw dulu sangat simple dan sederhana, pada saat gw menikah dan memiliki anak, gw akan resign dan mendampingi anak-anak selalu. Bayangan gw, gw akan resign dengan puas hati dan bangga diri, karena sudah mencapai cita-cita karir gw. Indah yaaa…
Pada saat gw menikah, sengaja pemisahan gaji antara gw dan suami dilakukan. Semua kebutuhan keluarga menggunakan gaji suami, dengan tujuan pada saat gw resign, kami tidak kaget karena sudah terbiasa hidup dengan gaji suami…Kevin dan Cealy hadir di keluarga mungil kami. Ketika Kevin berusia 5 tahun dan Cealy berusia 2 tahun di tahun 2006, gw mulai ngerasa nahhh…inilah waktunya, anak-anak sudah waktunya didampingi oleh orang tuanya, bukan oleh suster atau supir, bukan juga neneknya.
Ternyataaaa…………dengan berjalannya waktu, kami tidak sadar, mau tidak mau kehidupan kami "lumayan" nyaman, banyak fasilitas kantor yang melengkapi kenyamanan hidup kami, walau materi sudah disembunyikan baik-baik, tetap saja ada banyak fasilitas. Mulai dari liburan sekeluarga ke luar negeri, mobil keluaran terbaru berikut supirnya, sampai hal-hal kecil lainnya.
Keputusan resign sudah di depan mata, kinerja gw mulai menurun karena khawatir keadaan anak-anak, tapi di lain pihak juga ngga bisa dipungkiri, gw sangat mencintai kerjaan gw. Ternyata keadaan gw ngga luput dari perhatian suami tercinta. Sebagai kepala keluarga, dia mengambil keputusan mau mengambil Golden Shake Hand dari kantor…….duhh bagaikan disambar geledek. Why should him ? Selama ini gw sering mendengar kantor suami menawarkan Golden Shake Hand, tapi tidak pernah terbayangkan suami gw akan mengambil alternative itu, gw tetap membayangkan akan jadi istri "seseorang" di BUMN papan atas. Di umur dia yang masih sangat productive, di saat kinerja dia yang sangat baik, di saat masa depan yang sangat cerah, dia mengambil keputusan ini. Sangat sulit untuk berdamai dengan hati, sangat sulit untuk mengatakan "iya". Hampir setiap saat pembahasan hal ini, terutama alesan-alesan dia, dia sangat menginginkan mendampingi anak-anak. Dia juga menyampaikan alesan-alesan kenapa dia saja, dan bukannya gw…Akhirnya gw minta dia ambil cuti besar dari kantor, gw minta di mencoba dulu, ternyata dia sangat menikmati…seneng rasanya dengar tawa dia yang diiringin dengan background keriangan anak-anak. Dan anak-anakpun sangat menikmati kehadiran papanya selalu. Lalu……gara-gara masalah dengan bank (baca Preman ala Mandiri), gaji suami tertahan cukup lama, jadinyaa…..mau tidak mau kita hidup dari gaji gw, dan ternyata bisa. Ah, apakah semua tanda-tanda ini artinya keputusan suami sudah tepat ?Mama ikutan repot kasih nasihat, tapi niat suami udah bulat sekali…Mama khawatir dengan pandangan "asia", dimana suamilah yang ke kantor dan istri yang dirumah. Tapi emang ngga bisa dipungkiri, suami gw persis kaya papa, cara berpikiran sangat jauh dari ke-asia-an…suami gw sama persis seperti papa yang ngga sungkan masuk dapur, yang ngga sungkan mijitin kaki istri, yang ngga sungkan membawa sarapan ke tempat tidur untuk istri tercinta, ngga sungkan menemani anak-anak main, memandikan, memberikan makan dan minum……ahhh selama ini cara berpikir dia itu yang bikin gw kagum, sekarang masa gw harus hindari ?
Hari ini, hari yang ditunggu dari bulan Desember, gw dan suami dipanggil ke kantor untuk konseling. Duhh…….walaupun gw udah mantap, tetap aja gw merasa sedih, gw merasa tegang, gw berusaha banget tahan air mata ini. Jujur gw takut ini bukan keputusan yang tepat, tapi gw tau ini untuk kebaikan semua, apapun yang untuk kebaikan berakhir dengan baik juga kan ?Selama konseling gw tatap suami gw, "ah kasihku…kalau gw dulu ngga ambisius, akankah kamu ambil keputusan ini?". Gw liat keputusan suami gw udah bulat, "kasihku, jika ini keputusanmu, gw sebagai istri akan selalu mendukung dan mendampingi".
Untuk gw, tindakan suami gw ini, pengorbanan yang sangat mulia untuk gw dan anak-anak, dia lupakan ambisi pribadi, dia lupakan cita-cita awal dia (yang gw yakin pasti ada), hanya demi hidup "nyaman" kami sekeluarga.Untuk gw, he is my hero. I’ll always love you more and more…